Waktu kian berlalu.Nur menatap jam tangannya,’Alamak! Dah lewat!’.Segera Nur percepatkan langkahnya menuju ke kuliah.
Deruan tram yang kuat menggegarkan landasan kereta api di Kubri Gam’ah.Disuai pula oleh tiupan angin bayu laut Iskandariah,kesejukannya terasa hingga ke tulang.Deretan kasut cepat melangkah.Masing-masing ingin menaiki tram yang sama.Biarpun terpaksa berhimpit-himpit hingga terpaksa menghenjet kaki.
‘Fein el-mobile..! Ya Rabb!’, tangis seorang gadis.’Dimana telefon aku?’,adunya pada gadis-gadis disekelilingnya.Gadis-gadis muda yang lain hanya saling melontar pandangan sambil memeluk erat tas tangan masing-masing.
Begitulah pagiku bermula.Menyaksikan seorang gadis kehilangan barang kesayangannya sewaktu ke kuliah.Ini bukanlah kali pertama,bahkan sudah ramai sahabat-sahabatku yang mengalaminya gara-gara penyeluk saku yang progessional dikalangan penumpang-penumpang wanita.Nauzubillah.
.
.
Bukanlah salah penyeluk saku itu yang ana ingin sentuh disini.Bukanlah si gadis manis yang sedih akan kehilangan barangnya yang ana ingin tangisi bersama.Dan bukan juga kesesakan suasana tram yang ana ingin adukan.
Saban hari berlalu,kita seringkali mengadu kehilangan sesuatu didalam hidup kita.Kehilangan wang, kehilangan ilmu, kehilangan sahabat..namun jarang sekali kita bertanya pada diri kita akan kehilangan cahayaNya.
Cahaya iman yang Allah suluhi pada hati kita,terbitnya daripada hati dan jiwa yang bersih.Jiwa yang sering menangisi akan dosa-dosanya.Dan jiwa yang sering mengkoreksi dirinya akan maksiat dunia.
Biarpun benar iman itu seringkali bertukar tempat,yakni sebentar diatas,sebentar dibawah, namun hati ini jarang sekali peka akannya.Hati ini seringkali alpa,lalai,terlalu gembira, sibuk akan hal-hal zahir,hal-hal duniawi.. Allah Ta’ala berfirman
“Hai sekalian manusia, sesungguhnya janji Allah itu adalah benar. Maka dari itu, janganlah engkau semua tertipu oleh kehidupan dunia ini dan janganlah sekali-kali kepercayaanmu kepada Allah itu tertipu oleh sesuatu yang amat pandai menipu.” (Fathir:5)
Sehinggalah hati ini semakin hari semakin keras,semakin gelap,semakin pudar kejernihannya…lalu Allah menurunkan ujian untuk menyapa hamba-hambaNya ini.Agar yang bernama hamba itu tidak lupa pada Tuhan yang menciptakannya.
“Ataukah kamu mengira kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu cubaan seperti yang dialami orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan digoncang dengan pelbagai cubaan, sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (Al-Baqarah:24)
Kerana cinta.. Allah menanti-nanti tangisan taubat dari hambaNya. Meski banyak sekali manusia berbuat dosa.. Banyak sekali mengotorkan hati dengan noda.
Allah Ta’ala berfirman lagi:
“Diperhiaskanlah untuk para manusia itu – yakni diberi perasaan bernafsu – untuk mencintai kesyahwatan-kesyahwatan dari para wanita, anak-anak, kekayaan yang berlimpah-limpah dari emas dan perak,kuda yang bagus, binatang ternak dan sawah ladang. Demikian itulah kesenangan kehidupan dunia dan di sisi Allah ada tempat kembali yang sebaik-baiknya.” (ali-Imran: 14)
***
‘Yalla! Nazlahtun hena,an idznik!’,jerit seorang gadis Mesir dicelah gadis-gadis lain yang sedang berhimpit-himpit untuk turun ke stesen seterusnya. Nur tersentak. Lantas diberinya ruang untuk gadis tersebut turun.
Lamunan Nur sebentar tadi sedikit sebanyak mengingatkannya akan tabiat kehidupan manusia didunia ini.Mudah lupa akan Tuhannya yang menciptakannya.Sehinggalah bilamana nikmat-nikmat diberi ditarik semula,barulah diri ini terjaga.









